Subscribe

RSS Feed (xml)



Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Minggu, 24 Mei 2009

tentang LIERA

liera tuu nduT n lembek,cerewet lagi

Kenali Gejala Orang Stres di Kantor

Tuntutan pekerjaan yang tinggi, seringkali membuat seseorang stres berat. Kondisi ini masih bisa diperparah dengan faktor lingkungan yang tidak mendukung. Misalnya ruangan kantor yang tidak nyaman, rekan-rekan kerja yang tidak saling peduli, atau bos yang streng. Makanya jangan heran kalau banyak orang stres berkeliaran di kantor Anda. Maklumi sajalah, mereka itu pada dasarnya sedang tertekan dengan kondisi yang tidak sesuai harapan.

Gejala-gejala orang stres pun mudah dideteksi, karena bisa terlihat baik secara fisik maupun psikis. Berikut ini adalah gejala dan tanda-tanda orang yang tengah stres. Nah, mau tau siapa saja orang yang tengah stres di kantor Anda? Coba simak deh gejalanya, siapa tau Anda sendiri salah satunya.

Gejala fisik
Gejala fisik ditandai dengan seringnya sakit kepala yang berlebihan, baik menyeluruh maupun sebagian (migrain). Bahkan kepala terasa mau pecah. Selain itu, terjadi ketegangan pada otot-otot leher dan punggung, sulit bernapas, wajah pucat, serta cepat merasa lelah.

Berlebihan
Di luar gejala fisik, orang-orang yang stres seringkali bereaksi berlebihan. Baik dalam ucapan, memberi komentar, saran maupun permohonan. Hal ini terjadi karena mereka berusaha mencari perhatian orang-orang di sekelilingnya.

Kurang aktif
Orang-orang stres kadang justru terlihat kurang aktif. Sebagian lagi bahkan tidak aktif sama sekali. Mereka terlihat tak bersemangat dan nggak ada gairah untuk menyelesaikan pekerjaan. Makanya orang-orang stres yang termasuk dalam kategori ini kualitas kerjanya sangat buruk. Mereka lebih suka melamun, berkhayal, dan bermalas-malasan. Jika diajak bicara responnya pun sangat lamban. Mereka enggan berbicara apalagi mengeluarkan pendapat. Lebih buruk lagi, mereka jadi sering terlambat ke kantor atau bahkan tidak datang sekalian. Pendek kata, gairah mereka nyaris hilang sama sekali.

Sangat aktif
Sebagian dari orang stres justru menjadi sangat aktif. Aktivitas mereka cenderung tak terkontrol. Mereka gemar berpindah-pindah dari satu meja rekan ke meja rekan lain. Mereka juga suka mondar-mandir ke luar ruangan dan tertawa keras-keras, meskipun tidak ada sesuatu yang lucu. Kadang, mereka terlihat sangat giat bekerja, bahkan tahan berjam-jam di depan komputer tanpa beranjak sedetik pun. Tapi jangan salah, meski terlihat aktif, mereka ini tidak produktif. Karena keaktifannya itu hanya untuk melampiaskan perasaannya yang tertekan.

Nah coba Anda perhatikan, adakah rekan kantor Anda yang mulai terkena gejala-gejala stres? Atau mungkin Anda sendiri? Namun siapapun yang terkena stres, selalu ada cara untuk mengatasinya. Jangan diam aja, cobalah menerima kenyataan dengan lapang dada. Jika hati Anda lapang, tentu ada jalan untuk bangkit dari stres dan keputusasaan.

Jauhi Sifat Buruk Penghambat Karir

Perilaku Anda akan mempengaruhi karir Anda. Nah, kalau perilaku baik, karir kita juga akan naik, sebaliknya kalau buruk, yah akan menghambat, bahkan menghancurkan juga. Makanya, jauhi beberapa ‘sifat buruk’ penghambat karir itu. Karena, selain kemampuan dalam bekerja, ‘personality’ juga mempengaruhi sukses tidaknya anda dalam berkarir. Di bawah ini adalah daftar sifat buruk yang harus anda hindari di kantor:

Iri hati
Sifat ini merupakan refleksi ‘kecemburuan’ anda terhadap kelebihan orang lain. Misalnya iri ketika rekan yang lain mendapatkan promosi jabatan sementara anda tidak. Iri teman anda memperoleh kenaikan gaji, padahal anda tidak, dll. Tetapi sifat iri hati ini bisa menjadi positif, jika anda jadikan cambuk untuk lebih maju dan berhasil dari orang lain. Dengan catatan, jalan yang ditempuh pun harus positif.

Malas
Sifat malas dapat menyerang siapa saja, laki-laki, perempuan, tua muda, anak buah atau boss. Tetapi kalau sifat malas ini dibiarkan, akan menyebabkan kerugian besar pada diri anda. Sifat malas di tempat kerja membuat anda lebih sering menunda-nunda pekerjaan daripada menyegerakannya. Akibatnya anda akan kehilangan kesempatan berharga untuk berkarya dan maju. Seandainya ada waktu untuk bermalas-malasan, manfaatkan untuk mereview dan merencanakan apa yang sebaiknya anda lakukan.

Rakus
Sifat ‘rakus’ membuat anda ingin memiliki semua yang anda inginkan, baik materi maupun kedudukan/jabatan. Anda selalu ingin mengerjakan semua tugas-tugas penting di kantor. Bahkan pekerjaan yang semestinya bukan untuk andapun akan anda kerjakan demi ambisi anda. Biasanya sifat ini didasari oleh ‘ego’ bahwa anda ingin menonjol sendiri di tempat kerja. Akibatnya anda bahkan sudah tidak bisa membedakan mana pekerjaan yang harus anda lakukan dan mana yang bukan. Kerakusan yang lain adalah dalam hal materi. Anda ingin mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya dari pekerjaan, agar dapat memiliki materi yang banyak. Kalau salah langkah, bisa-bisa anda melakukan korupsi.

Marah
Marah yang berlebihan dapat merusak hubungan kerja yang stabil dan membuat emosi anda kacau balau. Tentu saja kondisi ini akan menyebabkan pekerjaan anda terganggu. Tetapi kalau memang anda harus marah di kantor, jangan takut untuk mengeluarkan amarah. Tetapi sebisa mungkin hindari orang-orang yang dapat memancing amarah dan memperkeruh keadaan. Yang penting, tindaklanjuti amarah anda dengan hal positif. Pendek kata kemarahan anda jangan sampai mengganggu pekerjaan. Dan juga tetap bersikap profesional dengan tidak mencampuradukkan kemarahan pribadi ke dalam pekerjaan. Sehingga hubungan kerja anda dan rekan-rekan di kantor tetap aman dan damai.

Terlalu bangga
Bangga terhadap prestasi yang anda raih memang wajar dan semestinya. Lagipula anda pasti membutuhkan ‘pengakuan’ atas prestasi dan kemampuan anda. Tetapi jangan sampai kebanggaan anda ini terlalu sering digembar-gemborkan. Tanpa perlu anda umumkan, teman-teman anda tentu sudah tahu kalau anda memiliki ‘nilai lebih’. ‘Pengumuman’ yang berlebihan atas prestasi anda, bukannya membuat rekan anda kagum, sebaliknya justru akan membuat rekan anda sebal. Dengan sikap ‘low profile’, rekan-rekan anda akan semakin menghargai anda.

Kalau anda sudah sadar bahwa sifat-sifat buruk di atas lebih banyak merugikan, sudah seharusnya anda menanggalkannya.

Apa itu Etos Kerja?

Mestinya kita tak perlu malu untuk bertanya mengenai hal-hal yang belum kita ketahui. Menurut Max Weber, pakar manajemen, ETOS KERJA diartikan: perilaku kerja yang etis yang menjadi kebiasaan kerja yang berporoskan etika.

Dengan kata lain yang lebih sederhana, etos kerja yaitu semua kebiasaan baik yang berlandaskan etika yang harus dilakukan di tempat kerja, seperti: disiplin, jujur, tanggung jawab, tekun, sabar, berwawasan, kreatif, bersemangat, mampu bekerja sama, sadar lingkungan, loyal, berdedikasi, bersikap santun, dsb.

Seorang pekerja atau pemimpin betapa hebat kepandaian/kecakapannya, tetapi tidak jujur atau tidak bertanggung jawab, tidak disiplin atau tidak loyal, misalnya apalagi tak mampu bekerja sama, pasti merugikan perusahaan. Dan hal ini tidak dikehendaki terjadi.

Tanpa etos kerja tinggi seperti disebutkan di atas perusahaan tak mungkin meningkatkan produktivitas sebagaimana yang diharapkan. Kinerja (performance) sangat ditentukan oleh etos kerja.

Menumbuhkan etos kerja kepada bawahan memang gampang-gampang sulit. Karena etos kerja tak dapat dipaksakan. Harus tumbuh dari dua pihak: atasan dan bawahan.

Gaji tinggi tidak menjamin terciptanya etos kerja yang baik. Mengapa? Seorang pimpinan perlu berhati-hati melaksanakan rekrutmen. Perlu selektif, apakah kemampuan calon sesuai dengan jenis pekerjaan yang dibutuhkan. Memiliki motivasi tinggi, daya tahan kerja, mau mengembangkan diri, mampu bekerja sama, dan sebagainya. Apakah dia sesuai dengan bidang/tugas yang akan diembannya. Karena kalau tak cocok, justru tak akan bersemangat dan hal ini berbahaya, karena tak mencintai pekerjaannya sehingga tak memiliki sense of belonging.

Job description harus jelas, jangan sampai tugasnya tumpang tindih dan terjadi overload. Harus ada pendelegasian tugas sehingga ia bisa kreatif dinamis. Atasan perlu memberi perhatian, sentuhan-sentuhan dan juga memanusiakan (nguwongake, bahasa Jawa) atau menghargai bawahan, sehingga ia akan bekerja produktif. Perlu ada dialog yang kontinyu sehingga ada kerja sama dan tanggung jawab. Bersikap adil dan bijaksana sehingga tercipta loyalitas dan dedikasi. Bersikap tegas sehingga bawahan akan disiplin.

Akhirnya, atasan perlu menjadi teladan sehingga mampu menciptakan filosofi atau budaya perusahaan yang baik.

Memimpin manusia memang tidak mudah. Apalagi memotivasi bawahan untuk menciptakan etos kerja yang baik. Tetapi, kita perlu berusaha dan mencobanya. Anda berani mencoba? Silakan dan semoga berhasil!

KETIKA MOTIVASI BEKERJA MENURUN

Banyak orang menyebut motivasi seperti air laut. Masa pasang surut datang silih berganti sesuai dengan kondisi alam yang terjadi saat itu. Ketika pasang datang, air laut dapat mengangkat apa saja yang ada di permukaan. Bahkan tak jarang melimpahkan airnya ke daratan. Begitu pula ketika surut tiba, semuanya ikut hilang dari permukaan. Nah, motivasi tak ubahnya pasang surut air laut tadi.

Yang berbeda dengan pasang surut air laut tadi adalah dampak dari naik turunnya motivasi. "Motivasi berhubungan langsung dengan semangat kerja seseorang," kata Brian Tracy, konsultan Total Training Network. Saat motivasi naik, semangat bekerja luar biasa untuk menghasilkan yang terbaik. Yang perlu dipahami setiap orang adalah motivasi merupakan rangsangan bagi setiap untuk bekeja lebih baik. Semakin tinggi motivasi seseorang, maka semakin tinggi pula semangat kerja untuk menghasilkan yang terbaik.

Begitu pula sebaliknya ketika motivasi berada pada titik terendah. Apalagi jika sampai terjun bebas ke titik toleransi terendah, bisa-bisa tak ada target yang dapat dicapai. Dalam kondisi seperti ini perlu dicari akar penyebab hilangnya motivasi bekerja. Namun, tak semua orang menyadari mencari akar permasalahan tadi. Bahkan tak jarang mereka makin terpuruk hingga hasil kerja tak memenuhi standar yang ditentukan.

Saat kondisi seperti itu Anda alami ada baiknya menelisik akar permasalahan yang menyebabkan Anda terpuruk dalam kerendahan motivasi. "Cobalah Anda tinjau ulang apa yang telah Anda dapatkan selama ini," kata Brian. Mungkin ada rasa tidak puas dengan pendapatan dari kantor Anda bekerja setelah sekian lama Anda memberikan yang terbaik. Ada baiknya jika Anda memiliki standar pembanding pendapatan dan tanggung jawab Anda dengan orang yang setara dengan Anda.

Dalam hal ini tidak ada yang perlu ditutupi bahwa setiap orang bekerja ingin mendapatkan penghargaan berupa penghasilan tadi. Jika pekerjaan orang dihargai sesuai dengan jerih payah yang dikeluarkan, tentu berdampak positif pada motivasi dirinya untuk bekerja lebih baik. Apalagi jika Anda dituntut tanggung jawab lebih di rumah seperti kehadiran anak. Tak ada yang menyangsikan semakin tinggi pendapatan seseorang, maka semakin tinggi pula motivasinya. Dengan begitu seorang karyawan tidak perlu berpikir mencari lahan lain untuk menambah pendapatannya.

Pendapatan memang bukan satu-satunya faktor yang membuat motivasi surut. Keadaan di sekitar tempat kerja yang kurang kondusif ikut berpengaruh. Bagaimana akan bekerja baik jika di rekan-rekan kerja tidak bisa diajak bekerja sama dan fasilitas kerja yang minim. Dalam keadaan seperti ini sulit mengharapkan karyawan bekerja sesuai standar yang diminta. Kondisi ini makin parah manakala Anda menjalankan pekerjaan yang itu itu saja tanpa ada rotasi yang proporsional.

Setiap orang hendaknya menyadari daya konsentrasi dan ketahanan diri. Ini penting untuk mengetahui pada tahap mana kejenuhan Anda hadir. Saat rasa jenuh itu biasanya menyebabkan seseorang tidak memiliki semangat untuk mengerjakan sesuatu. Nah, pada tahap seperti ini hendaknya pandai-pandai mencari cara menyelesaikan pekerjaan dengan pola baru. "Tidak ada salahnya Anda mencoba hal baru sepanjang hasilnya positif," kata Brian.

Dengan menghadirkan suasana dan pola kerja baru, motivasi Anda akan terangsang dengan sendirinya karena menemukan tantangan baru. Dengan begitu semangat yang sempat turun akan bangkit dengan sendirinya. Biasanya hal ini tanpa disadari berjalan begitu saja mengikuti hal-hal baru. Dan tak ada salahnya anda mencari mitra kerja baru sejauh tidak mengganggu sistem yang sudah ada.

Selain itu motivasi biasanya berhubungan dengan sebuah target yang hendak dicapai. Target jangka pendek seringkali berhubungan dengan kebutuhan sehari-hari yang harus dipenuhi. Sedangkan target jangka panjang berbentuk visi dan tujuan hidup secara keseluruhan. Orang yang memiliki tujuan hidup jelas, biasanya termotivasi untuk meraihnya. Ada sesuatu yang diharapkan dalam jangka waktu tertentu. Dengan begitu motivasi akan muncul untuk mewujudkan tujuan tadi.

Jika setiap orang memahami permasalahan dirinya, maka dengan mudah melakukan identifikasi persoalan hingga merumuskan satu jawaban. Motivasi yang diyakini sebagai stimulus diri pun perlu dirumuskan kapan dalam kondisi pasang dan kapan berada di titik surut. Faktor luar memang berperan memotivasi diri, tapi faktor dalam diri seseorang tak bisa diabaikan begitu saja. Bahkan pada beberapa orang faktor dalam diri menjadi faktor mutlak naik turunnya motivasi.

Pendidikan di Indonesia Relatif Gagal

Pendidikan di Indonesia dinilai gagal dan relatif kehilangan makna. Selain gagal melaksanakan proses transfer pengetahuan (transfer of knowledge), sistem pendidikan di Indonesia juga gagal membentuk watak peserta didiknya. Diperlukan usaha yang sungguh-sungguh dan konsisten agar kualitas SDM bangsa ini tidak semakin terpuruk.

Hal itu mengemuka dalam Simposium Nasional "Pendidikan dan Pembentukan Kreativitas" di Aula Timur ITB, Bandung, Selasa (21/10). Simposium yang berlangsung dua hari itu, pada hari pertama mendatangkan narasumber sosiolog Dr Imam B Prasodjo, guru besar ITB Prof Dr Gede Raka, dan Prof Dr Bana G Kartasasmita, staf pengajar ITB sekaligus peneliti di Lemhanas Dr TA Sanny, serta praktisi pendidikan lainnya. Demikian ungkap harian Suara Pembaruan.

Menurut Sanny, makna mendidik sebetulnya tidak lain upaya membangun budaya dan kreativitas manusia. Sementara Imam Prasodjo secara khusus mengungkapkan sejumlah kegagalan sekaligus kekhawatirannya terhadap gagalnya pembentukan watak dan karakter itu. Pasalnya, pola pendidikan seharusnya dibedakan dengan pengajaran.

"Kalau pengajaran sekadar transfer pengetahuan, tapi pendidikan mempunyai makna yang lebih luas, yaitu mentransfer nilai. Bisa dikatakan, keduanya gagal dilaksanakan," katanya.

Mengurai Benang Kusut Di Seputar Pendidikan

Melalui fenomena maraknya KKN, angka pengangguran yang tinggi, transaksi jual beli gelar kesarjanaan dan mutu pendidikan yang rendah, penulis mencoba mengurai akar masalah munculnya fenomena-fenomena tersebut. Melalui pandangan "grambyangan" -pembaca boleh tidak setuju-, fenomena-fenomena tersebut muncul karena system nilai sosial masyarakat bangsa kita begitu tinggi menjunjung derajat seseorang melalui nilai angka yang kwantitatif, dan "gelar" atau serftifikasi yang lain, tanpa peduli bagaimana kuwalitas nyata yang dimiliki seseorang.

Jika kita mau mencermati, sistem ini sebenarnya sudah tertanam sejak anak kita memasuki bangku sekolah dasar. Sistem ini sudah begitu kuat tertanam dan mengakar dalam sistem nilai sosial kita, sehingga banyak diantara kita sendiri yang nota bene adalah pelaku-pelaku pendidikan di negeri ini tidak menyadari sedang memasuki sistem nilai yang keliru, bahkan memberikan penguatan melalui dorongan kepada anak-anak kita sendiri untuk meraih "prestasi" yang berupa ranking yang tertulis di buku raportnya. Dan terus berlanjut dengan "upaya-upaya" sampai bagaimana anak-anak kita memperoleh NEM yang setinggi-tingginya. Singkat kata, yang menjadi acuan keberhasilan pendidikan di negeri kita adalah angka-angka yang tertulis dalam berbagai laporan penilaian pendidikan, bukan pada kuwalitas yang ditunjukkan melalui perubahan sikap dan ketrampilan hidup serta perilaku sesorang.

Dengan berkembang dan berakarnya sistem nilai sosial masyarakat kita yang memandang keberhasilan pendidikan melalui data angka kuwantitatif baik dalam raport, ijazah ataupun Danem, jadilah nilai kwantitatif yang berupa angka-angka mati yang tidak menginformasikan keseluruhan kuwalitas seseorang menjadi orientasi utama dalam proses pendidikan di negeri kita. Sebagai akibatnya adalah fenomena yang kita lihat di sekitar kita sehari-hari.

Disekolah, anak yang seharusnya menjadi subyek pendidikan, diputarbalikkan menjadi anak sebagai "alat" yang menentukan keberhasilan lembaga pendidikan (sekolah). Di sinilah anak "dipacu" untuk menyerap pengetahuan dari guru sebanyak-banyaknya. Guru tidak lagi perlu berorientasi apakah siswanya memahami dengan apa yang mereka ketahui. Orientasi pembelajaran yang dilakukan guru berubah menjadi bagaimana supaya kurikulum yang ditargetkan dapat terpenuhi, sekaligus bagaimana agar pada saatnya nanti, para siswanya dapat menjawab soal-soal kognitif dalam ebtanas. Bagi pihak sekolah keberhasilan siswanya menjawab dengan benar soal-soal ebtanas menjadi taruhan kredibilitas lembaga. Sekolah, bahkan pemerintah sendiri menilai mutu suatu lembaga sekolah melalui NEM yang didapat siswanya pada saat ebtanas.

Saking kuatnya pandangan ini, sampai-sampai hampir semua sekolah menganggap alokasi waktu/jam efektif sekolah yang sudah ditetapkan pemerintah melalui peraturan perundang-undangan, kur ang. Sehingga sekolah membuat program jam tambahan dengan nama Bimbingan Belajar, Pendalam Materi atau nama yang lain, yang orientasinya hanya satu. NEM yang tinggi. Di masyarakat, anak yang seharusnya dapat menikmati dunianya, terpaksa merelakan dunianya dengan disibukkan mengikuti les-les mata pelajaran. Dan jika pembaca ingin membuktikan, dapat dengan mudah dilakukan. Dari sekian juta anak di Indonesia yang mengikuti les mata pelajaran, berapa gelintir anak yang bertujuan supaya mempunyai ketrampilan hidup sesuai dengan mata pelajaran les yang diikutinya, dan berapa juta anak yang bertujuan supaya nilai (angkanya) menjadi baik, tanpa disertai ketrampilan hidup yang berkaitan dengan mata pelajaran tersebut.

Akibat dari orientasi yang menurut penulis keliru ini, pengembangan kepribadian yang dialami anak selama mengikuti proses pendidikan di sekolah hanya sebatas intelektual pada domain kognitif, dan belum mencakup perkembangan kerpibadiannya secara utuh. Karena perkembangan kerpibadian anak bangsa kita yang umumnya tidak utuh inilah muncul sikap mental yang tidak siap menghadapi persaingan dan tantangan dalam kehidupan tahap selanjutnya. Sikap mental ingin diperhatikan dan manja ini akhirnya membuat bangsa kita sebagai bangsa yang alergi dengan urusan birokrasi, bangsa yang trampil dan bangga dalam Membeli, bukan Menjual. Menggunakan, bukan Menciptakan. Menerima, bukan Memberi. Melihat, bukan Melakukan. Dan akhirnya jalan pintas adalah pilihan utama dalam berbagai hal. Dengan demikian kita harus mengakui, jika negara kita mendapat predikat negara ter-korup.

Keprihatinan penulis sedikit terhibur ketika penulis mendengar akan diberlakukannya Kurikulum Berbasis Kompetensi, yang menurut penulis lebih memandang peserta didik sebagai manusia secara utuh, bukan lagi sebagai mesin memori yang mampu menampung ingatan pengetahuan dalam jumlah yang besar. Serta munculnya berita tentang dihapusnya EBTANAS. Tetapi nampaknya keprihatinan kita semua tentang mutu pendidikan di negeri kita ini masih harus berlanjut dan bersambung bak sinetron di TV. Betapa tidak, dengan dikeluarkannya Kepmendikbud No 118 /U/2002, yang dalam pasal 3 ayat 1 sub e menyebutkan : Penilaian pada akhir pendidikan pada .. dilaksanakan dengan Ujian Akhir Nasional. Penulis sadar, penilaian melalui Ujian Akhir Nasional ini bertujuan untuk menstandarisasi lulusan satuan pendidikan.

Tetapi kemudian apa bedanya dengan EBTANAS. Kalaupun toh hasil UAN nanti untuk memberikan penilaian kinerja/mutu sekolah dan tidak memakainya sebagai tolak ukur penerimaan murid di jenjang sekolah yang lebih tinggi, penulis tetap berpandangan pesimis untuk dapat berjalan sesuai tujuan murninya. Dengan alasan, sekolah mana yang mau dengan lapang dada menerima penilaian negatif karena NUN yang didapat lulusannya rendah. Kepala Sekolah mana yang tidak menginginkan nama baik melalui perolehan hasil UAN para muridnya. Pada akhirnya, semua lembaga sekolah akan berlomba bagaimana hasil UAN muridnya dapat maksimal. Sama persis ketika sekolah berorientasi pada bagaimana agar NEM muridnya setinggi-tingginya.

Jika hal tersebut benar-benar terjadi, nasib KBK sudah dapat dipastikan, sama dengan Pendekatan Ketrampilan Proses dalam kurikulum 1975, yang diaplikasikan untuk memproses siswa agar menjadi mesin perekam pengetahuan. Sama dengan Pendekatan CBSA dalam Kurikulum 1984, yang mengoptimalkan aktivitas siswa untuk menghafal pengetahuan. Dan KBK sendiri akan menjadikan siswa sebagai basis yang kompeten untuk menghasilkan NUN yang tinggi. Sebagai solusi agar KBK berjalan sesuai degan jiwanya, penulis berpandangan bahwa penilaian apapun terhadap peserta didik, kita serahkan sepenuhnya pada lembaga penyelenggara pendidikan, bersama dengan masyarakat, dunia usaha/industri dan instansi pemerintah, sesuai dengan wilayah kewenagan masing-masing. Maksudnya, kuwalitas pendidikan yang dihasilkan suatu lembaga pendidikan akan terseleksi secara alami berdasarkan kompetensi yang dimiliki para lulusannya. Semakin banyak lulusannya yang terjaring seleksi di jenjang pendidikan yang lebih tinggi, berarti semakin berkuawlitas lembaga pedidikan tersebut. Semakin banyak lulusannya yang terjaring dalam seleksi rekrutmen tenaga kerja di dunia usaha dan industri, berarti semakin berkuwalitas lembaga pendidikan tersebut.

Seleksi alami ini akan terdukung jika sekolah lanjutan dalam menerima siswa barunya tidak lagi menggunakan angka nilai kuwantitatif sebagai acuan, tetapi diharapkan dapat menggunakan alat ukur yagn dapat mengunggkap komptensi selengkap mungkin dari kepribadian calon siswanya, dan sebanyak mungkin melibatkan masyarakat untuk menjaga obyektifitas seleksinya. Bagi dunia usaha dan industri juga instansi pemerintah, dalam seleksi rekrutmen karyawan baru juga tidak lagi menggunakan nilai angka kuwantitatif sebagai acuan, tetapi diharapkan dapat menggunakan alat ukur yang dapat mengungkapkan ketrampilan hidup yang dikuasai calon karyawannya, sesuai dengan bidang kerja yang akan didudukinya.